Delapan Tahun Jadi Korban Bullying
Percaya atau tidak, aku dulu menjadi salah satu korban bullying selama hampir delapan tahun. Ini adalah kisah yang menguatkanku.
Dari SD sampai SMK aku selalu bersekolah di sekolah negeri — yang waktu itu dikenal sebagai sekolah yang tertib dan ketat aturannya. Tapi kenyataannya, sekolah negeri ternyata tidak selalu seperti apa yang orang katakan.
Kisah ini bermula sejak aku pertama masuk taman kanak-kanak. Waktu itu aku belum paham banyak hal; sekarang aku mengerti apa yang aku alami dulu adalah bentuk diskriminasi. Ingatanku tidak sempurna, tapi satu adegan yang sangat membekas: mereka membentuk sebuah circle — yang isinya hanya anak-anak dengan rambut dikuncir di bagian belakang. Entah apa maksudnya, aku tidak diizinkan bergabung dan bermain bersama mereka.
Masuk SD, aku termasuk anak pendiam dan sering takut mencoba karena takut gagal. Aku bahkan takut bertanya; sampai akhirnya aku baru memahami konsep perkalian dan pembagian di kelas 5 SD. Lingkungan pertemanan waktu itu kurang sehat untuk anak sekelas kami — aku hanya punya dua teman yang bisa kusebut sahabat, sisanya terasa biasa saja. Selain itu, aku sering menjadi sasaran bullying verbal.
Puncaknya terjadi saat SMP. Mentalku benar-benar diuji sampai hancur. Teman yang dulu akrab berubah menjadi musuh. Aku tidak pernah tahu pasti apa penyebabnya, tetapi mungkin semua bermula dari kisah asmara di bangku SMP. Ada seorang gadis yang menyukaiku — dan sejujurnya aku juga punya ketertarikan padanya. Namun, pembully itu juga menyukai gadis tersebut. Aku memilih mengalah. Ketika pembully mengetahui bahwa gadis itu menyukaiku, bukan dirinya, mulailah ia membullyku.
Jika kujahit kembali ingatan itu, rasanya tak masuk akal aku bisa bertahan sekuat itu. Aku mengalami bullying fisik dan verbal; semua pernah kualami. Pernah terbesit pikiran untuk bunuh diri atau membalas dengan kekerasan terhadap pelaku. Tapi aku ingat: perjalanan hidupku masih panjang, dan aku adalah anak tunggal serta satu-satunya harapan orang tua. Pikir itu yang membuatku bertahan.
Sekarang, menulis kembali pengalaman ini, aku ingin memberi tahu siapa pun yang pernah mengalami hal serupa: kamu tidak sendirian. Pengalaman itu meluka, tapi juga mengajarkan ketahanan. Jika kamu sedang berada dalam bayang-bayang trauma, carilah bantuan — bicarakan pada orang yang kamu percaya atau tenaga profesional. Cerita ini bukan hanya tentang rasa sakit, tetapi juga tentang langkah kecil untuk pulih dan mencari harapan lagi.
Komentar
Posting Komentar